NRT, TARAKAN : Ancaman kebakaran lahan kembali menjadi perhatian serius di Kota Tarakan. Di tengah cuaca panas dan kemarau berkepanjangan, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul munculnya titik panas akibat endapan batubara yang terbakar di kawasan Jalan Pantai Amal Lama.
Komandan Kodim (Dandim) 0907/Tarakan, Letkol Inf Danan Wisnubrata, mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak menganggap remeh sekecil apa pun potensi kebakaran lahan. Deteksi dan penanganan sejak dini dinilai menjadi kunci agar api tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
Menurut Danan, kondisi cuaca panas ekstrem dan kemarau panjang menjadi salah satu faktor yang memicu terbakarnya endapan batubara di kawasan tersebut.
Menyikapi kondisi itu, Kodim 0907/Tarakan bergerak cepat bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan dan sejumlah instansi terkait untuk menangani titik panas sekaligus mengantisipasi dampak asap yang ditimbulkan.
“Hari ini kita bergerak cepat dengan Pemerintah Kota untuk mengatasi persoalan yang timbul di sekitar Pantai Amal ini, karena ada penyebab kebakaran di sekitar Borneo ini yaitu batubara yang terbakar akibat musim kemarau berkepanjangan dan efek panas,” ujar Danan.
Dandim menegaskan, upaya memadamkan dan mencegah meluasnya kebakaran tidak bisa hanya mengandalkan petugas. Peran masyarakat sangat dibutuhkan, terutama dalam mendeteksi titik api sedini mungkin.
Ia meminta warga segera melapor apabila menemukan asap, api, maupun indikasi kebakaran lahan di lingkungan sekitar.
“Kami dari Kodim 0907/Tarakan mengimbau kepada seluruh masyarakat supaya waspada. Apabila ada terjadi kebakaran lahan di sekitar lingkungannya, segera melaporkan dan berkoordinasi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, atau siapapun petugas yang ada di situ,” tegasnya.
Menurut Danan, kewaspadaan tersebut semakin penting mengingat sejumlah wilayah di Kalimantan kini menghadapi persoalan titik panas dan kebakaran lahan.
Meski jumlah titik api di Tarakan masih relatif sedikit, kondisi tersebut tetap harus diantisipasi agar tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
“Kalimantan saat ini sedang banyak sekali titik api yang timbul. Alhamdulillah untuk Kota Tarakan hanya ada beberapa, tapi kita tetap harus waspada supaya Kota Tarakan ini bisa zero atau nol titik api. Itu harapan kita semua,” pungkasnya.
Sementara itu, Pemkot Tarakan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus melakukan penanganan terhadap titik panas di kawasan Pantai Amal.
Penanganan kini diarahkan menggunakan cairan kimia khusus penahan oksidasi untuk membantu mengendalikan proses pembakaran batubara bawah tanah serta mengurangi risiko munculnya kembali titik panas.
Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan kebakaran batubara bawah tanah (coal seam fire) yang terjadi setelah kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi ini tidak hanya menimbulkan asap, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan warga dan pengguna jalan yang melintas di sekitar lokasi.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Tarakan memutuskan menutup sementara akses Jalan Pantai Amal Lama, Kelurahan Pantai Amal, Kecamatan Tarakan Timur.
Masyarakat, termasuk pelajar yang berada di sekitar kawasan terdampak, juga diimbau disiplin menggunakan masker untuk mengurangi risiko paparan asap dan gas berbahaya.
Dengan kondisi cuaca yang masih panas dan kering, pemerintah bersama aparat mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan.
Kewaspadaan warga menjadi benteng pertama untuk mencegah titik api berubah menjadi bencana kebakaran yang lebih luas. (*)
*(*)*



















Discussion about this post