NRT, Tana Tidung : Menjadi hari yang menghadirkan kebanggaan bagi Kabupaten Tana Tidung. Di dua tempat berbeda, nama daerah di wilayah utara Kalimantan itu kembali disebut melalui kiprah pasangan yang aktif mendorong pelestarian budaya dan penguatan literasi.
Di Jakarta, Bupati Ibrahim Ali menerima Piagam Penghargaan dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI atas kinerja dan kepeduliannya dalam menyukseskan Program Revitalisasi Bahasa Daerah Tahun 2025.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap dukungan pemerintah daerah dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.
Pada waktu yang hampir bersamaan, di Nusa Tenggara Timur, Bunda Literasi Kabupaten Tana Tidung sekaligus Anggota DPRD Kalimantan Utara Vamelia Ibrahim tampil sebagai narasumber dalam gelar wicara bertema Belajar dari Sesama: Praktik Baik Penguatan Literasi dari Berbagai Provinsi di Indonesia untuk Memperkuat Ekosistem Pendidikan di Nusa Tenggara Timur.

Forum yang mempertemukan pegiat pendidikan dan literasi dari berbagai daerah itu menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai penguatan budaya membaca di masyarakat.
Dua agenda nasional itu seolah menggambarkan arah pembangunan yang terus dibawa Tana Tidung. Di satu sisi menjaga akar budaya melalui pelestarian bahasa daerah, di sisi lain memperkuat kualitas sumber daya manusia lewat gerakan literasi.
Bahasa daerah memiliki hubungan erat dengan sejarah dan identitas masyarakat. Di dalamnya tersimpan nilai budaya, tradisi lisan, hingga cara sebuah komunitas memandang kehidupan.
Ketika penggunaan bahasa mulai berkurang, perlahan sebagian warisan budaya ikut tergerus. Karena itu, program revitalisasi bahasa daerah menjadi upaya penting agar generasi muda tetap mengenal dan menggunakan bahasa ibu mereka.
Peran pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam upaya tersebut, mulai dari dukungan kebijakan, keterlibatan sekolah, hingga mendorong ruang-ruang budaya di tengah masyarakat.
Penghargaan yang diterima Ibrahim Ali menunjukkan langkah yang dilakukan Tana Tidung mendapat perhatian di tingkat nasional.
Sementara itu, gerakan literasi yang dibawa Vamelia Ibrahim lahir dari kesadaran pembangunan manusia dimulai dari kebiasaan membaca dan kemampuan memahami informasi.
Dalam forum di NTT, ia berbagi pengalaman mengenai pentingnya menghadirkan budaya literasi sejak lingkungan keluarga, sekolah, hingga komunitas masyarakat.
Literasi hari ini tidak hanya berkaitan dengan buku, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan memahami perubahan yang terus berkembang.
Kehadiran Vamelia sebagai narasumber memperlihatkan pengalaman dari daerah perbatasan pun dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Indonesia.
Momentum pada hari itu mungkin berlangsung sederhana: satu menerima penghargaan, satu berbicara di forum nasional.
Namun dari dua panggung berbeda itu, nama Tana Tidung kembali diperkenalkan melalui kerja nyata di bidang budaya dan pendidikan. (*)




















Discussion about this post