NRT, TANJUNG SELOR : Tradisi menyumpit masyarakat Dayak tak sekadar menjadi warisan masa lalu. Di tangan generasi sekarang, tradisi ini mulai dihidupkan kembali melalui ajang olahraga yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah di Kalimantan.
Semangat itulah yang mewarnai pembukaan Bulungan Open Turnamen Menyumpit di Kebun Raya Bundayati, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Selasa (20/10/2026) pagi. Turnamen yang berlangsung selama dua hari, 20–21 Oktober 2026, ini menjadi bagian dari upaya merawat tradisi sekaligus memperkenalkan olahraga menyumpit kepada generasi muda.
Bupati Bulungan, Syarwani, S.Pd., M.Si., mengatakan turnamen tahun ini mendapat sambutan yang lebih luas dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Selain peserta dari Kabupaten Bulungan, ajang tersebut diikuti peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Utara serta Kalimantan Timur, termasuk Samarinda dan Berau.
Menurut Syarwani, terdapat 37 peserta yang mengikuti lomba menyumpit, sementara lebih dari 100 peserta dari luar daerah turut hadir dalam kegiatan tersebut.
“Ini bukan hanya sekadar lomba. Kita ingin memperlihatkan secara langsung bahwa di Kalimantan Utara khususnya dan Kalimantan pada umumnya, menyumpit bukan sesuatu yang baru. Ini merupakan tradisi masyarakat, khususnya masyarakat Dayak yang sejak dahulu menggunakan sumpit dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Syarwani.
Ia menjelaskan, penyelenggaraan turnamen merupakan bentuk apresiasi sekaligus langkah nyata untuk menjaga dan melestarikan tradisi menyumpit agar tetap dikenal oleh generasi muda, khususnya di Kabupaten Bulungan.
Syarwani berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Pemerintah Kabupaten Bulungan ingin menjadikan olahraga menyumpit sebagai salah satu kegiatan yang terus diperkenalkan melalui berbagai event, terutama dalam rangkaian peringatan hari jadi Kabupaten Bulungan.
Bidik 1.000 Peserta pada Tahun Berikutnya
Melihat antusiasme peserta tahun ini, Syarwani membuka peluang agar turnamen menyumpit dikembangkan dengan skala yang lebih besar pada masa mendatang.
Ia mengaku telah berdiskusi dengan Wakil Bupati Bulungan serta sejumlah tokoh dan sesepuh daerah mengenai kemungkinan memperluas jangkauan kegiatan tersebut.
“Harapan kita ke depan, mudah-mudahan bisa tembus 1.000 peserta. Tentu ini membutuhkan proses. Paling tidak, kita berharap pada penyelenggaraan Bulungan Open Turnamen Menyumpit 2027, pesertanya semakin banyak, terutama dari generasi muda di Kalimantan dan khususnya Kabupaten Bulungan,” ungkapnya.
Menurutnya, penyelenggaraan tahun ini menunjukkan perkembangan dibandingkan 2025, ketika kegiatan masih berskala lokal Bulungan. Dengan sosialisasi dan publikasi yang lebih luas, turnamen tersebut diharapkan mampu menarik peserta dari lebih banyak daerah, bahkan berkembang menuju skala nasional.
Pelestarian Budaya Dimulai dari Sekolah
Selain melalui perlombaan, Syarwani menekankan pentingnya mengenalkan warisan budaya sejak usia dini. Salah satu upaya yang telah berjalan ialah memasukkan unsur budaya lokal ke dalam kegiatan pendidikan.
Pemkab Bulungan, kata dia, telah menginstruksikan satuan pendidikan, terutama tingkat sekolah dasar hingga TK dan PAUD, untuk menyisipkan konten lokal dalam proses belajar mengajar.
Tiga bahasa daerah yang didorong menjadi muatan lokal ialah bahasa Bulungan, Tidung, dan Dayak.
Sementara itu, pelestarian budaya melalui seni tari juga terus berkembang di lingkungan sekolah. Menurut Syarwani, berbagai sekolah di Bulungan telah menampilkan tarian tradisional dalam kegiatan sekolah maupun acara yang mereka hadiri.
“Nilai-nilai pelestarian budaya ini harus kita tanamkan sejak usia dini, sejak anak-anak berada di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Ia berharap pengenalan bahasa, seni, dan tradisi daerah dapat membuat generasi muda semakin mengenal identitas budayanya sekaligus memiliki kepedulian untuk menjaga warisan leluhur.
Tak Hanya Melestarikan Tradisi, UMKM Ikut Bergerak
Bagi Syarwani, kegiatan berskala besar seperti turnamen menyumpit juga memiliki potensi menggerakkan perekonomian daerah. Kehadiran peserta dan pengunjung dari luar Bulungan dapat memberikan dampak bagi pelaku usaha lokal, mulai dari penginapan, rumah makan, hingga UMKM.
Ia mencontohkan pelaksanaan Festival Sungai Kayan pada 14–17 Oktober 2026. Berdasarkan data yang disampaikan Syarwani, perputaran uang dari transaksi selama penyelenggaraan festival tersebut diperkirakan mencapai Rp2,3 miliar.
Nilai transaksi itu, menurutnya, melibatkan berbagai sektor usaha, termasuk UMKM, pengusaha konveksi, perhotelan, dan jasa lainnya.
“Ketika banyak orang berkumpul, saya yakin dampaknya juga dirasakan sektor usaha lainnya, terutama para pelaku UMKM. Peserta yang datang dari luar daerah bisa menginap di hotel, makan di warung, dan memenuhi kebutuhan lainnya selama berada di Tanjung Selor,” jelasnya.
Karena itu, Pemkab Bulungan berkomitmen mendorong event-event daerah menjadi agenda rutin tahunan. Selain Festival Sungai Kayan, olahraga menyumpit diharapkan terus dikembangkan dengan kemasan kegiatan yang semakin menarik dan tetap mengedepankan muatan lokal.
Melalui Bulungan Open Turnamen Menyumpit, pemerintah daerah ingin menjaga tradisi tetap hidup, memperkenalkannya kepada generasi muda, sekaligus membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Dengan target peserta yang lebih besar pada tahun mendatang, turnamen ini diharapkan menjadi salah satu ruang bagi budaya Dayak untuk terus tumbuh dan dikenal lebih luas di Kalimantan maupun tingkat nasional. (*)






















Discussion about this post