NRT, Tarakan : Dugaan aktivitas narkotika di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan menjadi perhatian serius Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Utara. Dalam sidak gabungan yang digelar pada Jumat (30/10/2026) dini hari, petugas menemukan 44 unit telepon genggam (HP) dan dua alat hisap sabu.
Operasi yang berlangsung sekitar pukul 01.30 WITA itu juga menyasar enam warga binaan. Dari hasil tes urine terhadap keenam orang tersebut, dua di antaranya dinyatakan positif narkotika.
Temuan tersebut kini menjadi pintu masuk bagi BNNP Kaltara untuk menelusuri lebih jauh kemungkinan adanya aktivitas komunikasi dan transaksi narkotika yang dikendalikan dari dalam lapas.
Kepala BNNP Kaltara, Brigjen Pol. Abdul Hasyim, mengungkapkan sidak melibatkan BNN pusat dan Bareskrim Polri. Pemeriksaan dilakukan secara mendadak setelah petugas menghimpun informasi melalui koordinasi lintas lembaga.
“Ini gabungan, kita bekerja sama dengan BNN pusat dan Bareskrim. Pelaksanaannya dini hari sekitar pukul 01.30 WITA, sehingga memang sifatnya mendadak. Alhamdulillah, dari pemeriksaan itu banyak yang kita temukan. Ada 44 HP dan dua alat hisap. Dari barang-barang yang ditemukan ini kita kembangkan lagi,” ungkap Hasyim, Kamis (5/11/2026).
Dalam pelaksanaannya, petugas tidak hanya memeriksa enam warga binaan yang telah masuk sasaran operasi. Sejumlah blok hunian dan sel lainnya turut disisir untuk memastikan kondisi keamanan di lingkungan lapas.
Hasyim menyebut, pengembangan awal dari hasil operasi tersebut telah membuahkan penangkapan. Namun, BNNP Kaltara belum mengungkap identitas maupun peran pihak yang diamankan karena proses penyelidikan masih berlangsung.
“Dari hasil pengembangan itu sudah ada yang tertangkap. Kita juga masih terus mengembangkan temuan yang ada. Enam orang yang menjadi sasaran sudah kita periksa, tetapi pemeriksaan tidak hanya kepada mereka. Sel-sel lainnya juga kita cek dan kita lakukan tes urine terhadap yang menjadi sasaran,” jelasnya.
44 HP Ditelusuri, WhatsApp hingga Transfer Uang Diperiksa
Puluhan telepon genggam yang ditemukan menjadi salah satu fokus utama pengembangan. BNNP Kaltara mendalami isi perangkat tersebut untuk menelusuri kemungkinan adanya komunikasi antara warga binaan dengan jaringan narkotika di luar lapas.
Pemeriksaan dilakukan secara bertahap, mulai dari percakapan melalui aplikasi WhatsApp hingga riwayat transfer uang yang tersimpan dalam perangkat. Petugas berupaya mencocokkan informasi komunikasi dan transaksi guna menemukan kemungkinan keterkaitan dengan aktivitas peredaran narkotika.
“HP-HP ini kita buka satu per satu, memang tidak bisa sekaligus. Kita periksa percakapannya, WhatsApp, kemudian transfer uang juga kita lihat. Semuanya kita telusuri karena dari sana bisa muncul informasi baru. Kita ingin mengetahui apakah ada komunikasi yang mengarah pada peredaran narkoba, termasuk kemungkinan ada transaksi yang dilakukan dari dalam lapas,” terangnya.
BNNP Kaltara juga mendalami dugaan adanya warga binaan yang berperan sebagai pengendali peredaran sabu. Meski demikian, Hasyim menegaskan pihaknya belum dapat memastikan siapa yang memiliki peran tersebut sebelum seluruh bukti diperiksa.
Menurutnya, dugaan keterlibatan seseorang sebagai bandar harus didukung bukti, termasuk indikasi transaksi keuangan yang berkaitan dengan peredaran narkotika.
“Bisa jadi ada yang berperan sebagai bandar. Tetapi kita belum bisa memastikan sekarang. Nanti kita lihat dari HP itu, apakah ada yang menerima transferan atau mengirim uang berkaitan dengan peredaran narkoba. Kalau memang ditemukan bukti yang mengarah ke sana, tentu akan kita dalami dan proses lebih lanjut,” tegasnya.
Dugaan Jalur Masuk HP dan Rencana Pemindahan Warga Binaan
Selain menelusuri isi perangkat komunikasi, petugas juga berupaya mengungkap bagaimana puluhan HP tersebut bisa masuk ke dalam lapas.
Berdasarkan informasi awal yang diterima, perangkat tersebut diduga dibawa oleh pengunjung saat membesuk warga binaan. Namun, informasi itu masih perlu didalami untuk memastikan jalur masuk barang sekaligus menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Sebagai langkah lanjutan, BNNP Kaltara telah berkoordinasi dengan pihak pusat terkait rencana pemindahan enam warga binaan yang menjadi sasaran pemeriksaan. Lokasi lapas tujuan masih dalam pembahasan.
“Dari pusat juga sudah ada pembicaraan. Enam orang ini nanti direncanakan digeser atau dipindahkan. Untuk lapas tujuannya masih direncanakan, nanti ditentukan lebih lanjut. Sementara yang berkaitan dengan pengungkapan kasus tetap kita kembangkan lagi berdasarkan hasil pemeriksaan dan bukti yang ditemukan,” kata Hasyim.
Ia menegaskan, pengembangan perkara tidak berhenti pada penyitaan barang maupun pemeriksaan enam warga binaan. BNNP Kaltara akan terus menelusuri bukti elektronik untuk mengungkap kemungkinan keterlibatan pihak lain, termasuk dugaan pengendalian peredaran narkotika dari dalam lapas.
Menurut Hasyim, kondisi geografis Kalimantan Utara memang menghadirkan tantangan tersendiri dalam pemberantasan narkotika. Karena itu, sinergi antarlembaga dinilai penting untuk mengungkap jaringan yang lebih luas.
“Mudah-mudahan dengan niat yang bagus dan serius, persoalan narkoba ini terus kita ungkap. Kita bersinergi dan berkolaborasi. Faktor geografis memang memiliki tingkat kesulitan tersendiri dalam penanganan narkotika di Kaltara, tetapi perkembangan pengungkapan ini akan terus kita informasikan kepada rekan-rekan media,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Tarakan, Trisno Witanta Tarigan, membenarkan adanya sidak gabungan tersebut. Namun, pihaknya masih berkoordinasi dengan Bareskrim Polri terkait penyampaian informasi resmi kepada publik.
“Dari Bareskrim Polri menyampaikan bahwa mereka yang akan melakukan rilis tersebut. Kami masih melakukan koordinasi,” singkatnya.
Hasil pemeriksaan 44 HP dan temuan lainnya kini menjadi bagian penting dalam pengembangan kasus. BNNP Kaltara masih menelusuri kemungkinan adanya jaringan narkotika yang memanfaatkan lingkungan lapas sebagai tempat komunikasi maupun pengendalian peredaran barang terlarang. (*)



















Discussion about this post