NRT, Tarakan : Ekosistem mangrove Kalimantan Utara (Kaltara) berpeluang memiliki peran lebih besar dalam upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus membuka potensi manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir. Melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), proyek karbon mangrove dengan cakupan sekitar 68.911 hektare kini tengah disiapkan di tiga kabupaten di Kaltara.
Proyek yang mencakup wilayah Kabupaten Bulungan, Nunukan, dan Tana Tidung ini menjadi pilot project nasional. Pengembangannya diarahkan untuk memperkuat perlindungan dan konservasi mangrove, sekaligus memastikan masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan kawasan memperoleh manfaat secara adil.
Dari total area yang direncanakan, sekitar 15.898 hektare berada di kawasan Perhutanan Sosial. Sementara itu, 53.012 hektare lainnya mencakup Kawasan Ekosistem Mangrove (KEM) atau Areal Penggunaan Lain (APL).
Pengembangan proyek dikoordinasikan Kementerian Koordinator Bidang Pangan dengan dukungan Bank Dunia. Salah satu perhatian utama dalam tahap persiapannya adalah memastikan masyarakat dilibatkan sejak awal, terutama melalui mekanisme Persetujuan atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA) atau Free, Prior and Informed Consent (FPIC).
PIU Manager M4CR Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Muhammad Farid, menegaskan proyek karbon mangrove tidak boleh hanya berorientasi pada potensi nilai karbon. Aspek lingkungan, sosial, serta kejelasan pembagian manfaat bagi masyarakat juga harus menjadi perhatian utama.
“Pengembangan proyek karbon mangrove perlu dibangun dengan memperhatikan aspek lingkungan dan sosial. Masyarakat yang berada di sekitar kawasan harus dilibatkan sejak awal melalui proses PADIATAPA, sehingga mereka memahami rencana kegiatan, hak, serta potensi manfaat yang dapat diperoleh. Karena itu, kerangka pembagian manfaat atau benefit-sharing menjadi bagian penting dalam persiapan proyek ini,” ujar Farid.
Saat ini, proyek karbon mangrove M4CR di Kaltara masih berada dalam tahap persiapan. Pengembangannya mengacu pada standar Verra, yang menjadi salah satu standar dalam pengembangan proyek karbon.
Sebelum kredit karbon dapat diterbitkan dan diperdagangkan, proyek harus melewati sejumlah tahapan penting. Di antaranya validasi dokumen, audit lapangan, hingga verifikasi hasil aksi mitigasi yang dilakukan melalui kegiatan rehabilitasi dan konservasi mangrove oleh lembaga independen.
Artinya, hingga saat ini belum ada kredit karbon yang diterbitkan maupun diperdagangkan dari proyek tersebut. Hasil verifikasi berupa Verified Carbon Unit (VCU) ditargetkan baru dapat diperoleh dan masuk ke pasar karbon global pada akhir 2028 atau awal 2029.
Meski masih dalam tahap persiapan, proyek ini direncanakan diluncurkan secara resmi dalam agenda program M4CR pada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP31) di Turki, November 2026.
Peluncuran tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi ekosistem mangrove Kaltara kepada dunia, sekaligus menunjukkan kontribusi daerah dalam mendukung mitigasi perubahan iklim.
Melalui proyek seluas 68.911 hektare ini, M4CR berupaya memastikan potensi karbon mangrove tidak hanya menjadi bagian dari perdagangan karbon global, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Perlindungan ekosistem, keterlibatan warga, serta pembagian manfaat yang transparan dan berkeadilan menjadi kunci agar proyek tersebut dapat berjalan berkelanjutan. (*)



















Discussion about this post