NRT, Tarakan : Ditengah minimnya sarana dan prasarana (Sarpras) dalam pengembangan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II A Tarakan. Namun produk yang dihasilkan diupayakan berkualitas dan lancar.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas II A Tarakan Andika Abrian mengatakan, meski produksi kreatifitas WBP diupayakan berjalan lancar dan menghasilkan kualitas terbaik, namun ada beberapa kendala yang perlu di Carikan solusinya.
“Misal kalau ada pemesanan amplang, pemesanan batako, terus pemesanan UMKM yang lumayan besar seperti meja, furniture. kita kendalanya di kendaraan biasanya. Jadi kalau pas ada pemesanan di luar, kita harus cari sewaan dulu untuk pengangkutannya,” ujarnya, Selasa (27/1/2026).
Tak hanya itu Lanjutnya, sejumlah Sarpras penunjang UMKM juga mengalami kerusakan dan tak dapat di perbaiki kembali.
“Mungkin dalam hal ini juga semoga anggota di DPR RI komisi VII yakni Ibu Hj. Rahmawati, berkenan datang kembali dan melihat kondisi kami ini. Karena tahun 2022 lalu beliau sempat berkunjung kesini dan sempat kita diberikan ilmu, terus warga binaan juga dapat pelatihan yang inilah pas keluar nanti bisa dimanfaatkan,” harap Andika.
Ia mengaku, alat produksi yang digunakan sampai sekarang masih mengandalkan dari pelatihan. Namun di tahun ini untuk anggaran pelatihan kebetulan juga sudah tidak ada.
“Jadi kami mencoba mengandalkan CSR perusahaan. Tapi sampai sekarang belum ada yang merespon. Kemudian untuk Bahan baku itu kita masih putar modal. Jadi kalau dari hasil produksi membatik, hasilnya kita putar untuk menanam sayur-sayuran,” ungkapnya.
Andika menyebut bahwa produk unggulan WBP saat ini adalah amplang bandeng dan udang.
“kita ada buat juga yang terbaru itu gedebok pisang. Kebetulan juga gedebok pisang ini perdana di Kalimantan. Jadi belum ada di Kalimantan yang produksi gedebok selain di Lapas Tarakan,” pungkasnya. (*)






















Discussion about this post