NRT, Tarakan : Implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kian menunjukkan pertumbuhan positif dari tahun ke tahun di Provinsi Kaltara. Bank Indonesia (BI) mencatat, periode 2023—2025 menjadi fase akselerasi penggunaan QRIS di Kaltara, ditandai dengan pertumbuhan signifikan jumlah pengguna, merchant, hingga lonjakan volume dan nilai transaksi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara Hasiando Ginsar Manik menuturkan, jumlah pengguna QRIS di Kaltara tercatat sekitar 131 ribu orang, tumbuh 8,1 persen secara tahunan (year on year/YoY). Ini mencerminkan semakin kuatnya penerimaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap sistem pembayaran nontunai yang praktis, aman, dan terintegrasi.
“Angka ini menunjukkan ruang pengembangan QRIS di Kaltara masih sangat terbuka. Terutama untuk mendorong inklusi keuangan dan meningkatkan efisiensi transaksi masyarakat,” ungkapnya.
Meski menunjukkan tren peningkatan, tingkat penetrasi QRIS terhadap penduduk usia produktif masih berada di kisaran 25 persen.
“QRIS tidak lagi sekadar alternatif pembayaran. Tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan aktivitas ekonomi masyarakat Kaltara,” ujar Hasiando.
Hasiando menilai, terdapat potensi sekitar 392 ribu jiwa usia produktif, yang belum terjangkau layanan pembayaran digital berbasis QRIS. Seiring dengan pertumbuhan pengguna, adopsi QRIS di kalangan pelaku usaha juga mengalami peningkatan yang konsisten. Hingga 2025, jumlah merchant QRIS di Kaltara tercatat sekitar 112 ribu merchant, tumbuh 18 persen YoY dibandingkan tahun sebelumnya.
“Secara wilayah, Kota Tarakan menjadi daerah dengan jumlah merchant QRIS terbanyak, yakni mencapai 45.070 merchant. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Nunukan dengan 28.017 merchant, Bulungan 27.136 merchant, Malinau 9.532 merchant, serta Kabupaten Tana Tidung sebanyak 3.071 merchant,” urainya.
Dari sisi transaksi, kinerja QRIS di Kaltara menunjukkan lonjakan yang cukup tajam. Sepanjang 2025, volume transaksi QRIS mencapai sekitar 20 juta transaksi, atau tumbuh 408 persen YoY. Sementara itu, nilai transaksi tercatat sebesar Rp 2,4 triliun, meningkat 266 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Peningkatan jumlah merchant menjadi indikator bahwa QRIS semakin dipercaya sebagai sarana transaksi yang aman, efisien, dan mampu mendukung kelancaran aktivitas usaha,” katanya.
Lonjakan tersebut, dipengaruhi oleh semakin luasnya pemanfaatan QRIS dalam aktivitas ekonomi harian masyarakat, termasuk di pusat perbelanjaan, layanan publik, hingga sektor transportasi.
Ke depan, BI berkomitmen untuk terus mendorong perluasan penggunaan QRIS secara lebih merata di seluruh kabupaten dan kota di Kaltara.
“QRIS kini tidak hanya digunakan untuk transaksi kecil, tetapi juga mulai menjadi pilihan utama dalam berbagai layanan ekonomi dan publik,” ungkapnya.
“Upaya ini kita harapkan dapat memperkuat digitalisasi sistem pembayaran sekaligus memperluas akses keuangan bagi masyarakat. Dengan ekosistem QRIS yang semakin kuat, kami berharap manfaat digitalisasi sistem pembayaran dapat dirasakan lebih luas dan berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi Kaltara,” tutupnya. (*)






















Discussion about this post