NRT, Tarakan : Potensi besar Kalimantan Utara di sektor kelautan dan ekonomi kreatif saat ini mulai digarap serius.
Anggota Komisi VII DPR RI Dapil Kaltara, Rahmawati, menilai penguatan pelatihan dan akses permodalan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan langkah strategis untuk mendorong transformasi ekonomi daerah dari ketergantungan pada sumber daya alam menuju industri kreatif dan berkelanjutan.
Menurutnya, Kaltara memiliki kekayaan alam dan sumber daya manusia yang berlimpah, tetapi belum sepenuhnya dikelola secara optimal. Sehingga, pelaku UMKM perlu diperkuat dengan keterampilan teknis, inovasi, dan jaringan pemasaran agar mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal.
“Kalau potensi ini dikelola dengan baik, masyarakat Kaltara tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga pelaku utama ekonomi daerah. Kita ingin mereka menjadi pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja,” ujarnya, Minggu (9/11/2025).
Kegiatan pelatihan yang digelar bersama Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kesehatan itu meliputi tiga bidang utama, yakni pengolahan hasil laut, pelatihan ekoprint dan batik khas daerah, serta servis alat rumah tangga.
Setiap bidang dirancang agar peserta bisa langsung mempraktikkan keahlian yang didapat dan mengembangkannya menjadi usaha mandiri.
Rahmawati mencontohkan, produk olahan ikan dan hasil laut seperti amplang dan keripik ikan memiliki peluang besar menembus pasar nasional. Begitu pula dengan ekoprint dan batik khas Kaltara yang kini mulai mendapat perhatian pasar.
“Dulu produk batik seperti Sesingal hanya terjual beberapa potong per bulan, sekarang sudah ratusan. Ini tanda bahwa pasar sudah mulai terbuka,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pelatihan teknis seperti servis alat rumah tangga bagi peserta laki-laki. Dengan keterampilan itu, mereka bisa membuka usaha kecil, memberikan layanan di lingkungan sekitar, dan membantu perputaran ekonomi keluarga.
“Kalau pelatihan seperti ini digarap terus, kita bisa bangun ekonomi dari bawah. Ini bagian dari strategi membangun kemandirian masyarakat,” katanya.
Selain pelatihan, Rahmawati menegaskan pentingnya akses permodalan yang mudah bagi pelaku usaha kecil. Pemerintah, melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR), kini memberikan kemudahan pinjaman tanpa agunan besar.
“Cukup dengan NIB, NPWP, dan Kartu Keluarga, masyarakat bisa mengakses modal hingga Rp100 juta. Pemerintah ingin UMKM tumbuh tanpa terbebani prosedur yang rumit,” jelasnya.
Meski begitu, ia mengakui tantangan di Kaltara masih cukup besar, terutama dalam aspek logistik dan transportasi yang memengaruhi biaya produksi dan harga jual.
“Kadang pengusaha kecil kesulitan karena ongkos kirim mahal. Ini harus jadi perhatian bersama agar ekonomi tidak hanya berputar di dalam daerah,” tambahnya.
Rahmawati mendorong pemerintah pusat memperkuat infrastruktur transportasi udara dan laut, serta memperluas jaringan digitalisasi usaha agar UMKM Kaltara bisa bersaing di tingkat nasional.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan perbankan agar pertumbuhan ekonomi berbasis lokal bisa berkelanjutan.
“Kreativitas saja tidak cukup. UMKM harus punya manajemen usaha, legalitas, dan kemampuan promosi digital. Kita bantu agar mereka naik kelas,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen pribadi, Rahmawati juga rutin menggunakan batik khas Kaltara dalam berbagai kegiatan di DPR RI untuk mempromosikan produk lokal. Ia berharap langkah kecil seperti ini bisa menginspirasi masyarakat untuk bangga dengan produk daerahnya sendiri.
“Kalau kita saja tidak bangga dengan karya anak daerah, siapa lagi? Saya ingin UMKM Kaltara tumbuh kuat, berdaya saing, dan jadi kebanggaan kita bersama,” tutupnya. (CRZ)






















Discussion about this post